Minggu Pahing,  20 Agustus 2017 02:43 WITA
Jl. Basuki Rachmat Niti Mandala Renon, Bali
birohumas@baliprov.go.id
+62 361 - 224671 ext 503 (Hotline)
   
FOTO KEGIATAN
Foto Kegiatan Lainnya

TABLOID BALI MANDARA

Agustus, 2017
MSSR KJS
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

KRITIK DAN SARAN
26 Juni 2017
  Inengah sujana
  Kesehatan
 
19 Juni 2017
  mawardi
  anak pegawai instansi vertikal tidak bisa sekolah di prov bali
 
18 Juni 2017
  Sancita Wiguna
  Pembinaan Baleganjur PKB ke-39 di Kabupaten Badung
 
17 April 2017
  tutde
  KIPEM
 
17 Maret 2017
  I Gede Putra Dewantara
  transportasi tourist dari bandara ke BTDC
 


Chat Support
  Chatting Support 1 :
Chatting Support 2 :
 
 
ARTIKEL DETAIL
http://birohumas.baliprov.go.id/ - Jumat, 21 April 2017
Makna Nguncal Balung, dan Pantangan Lakukan Upacara Yadnya
Dibaca: 308 Pengunjung


Oleh : I Ketut Yadnya Winarta

Sumber Photo : humasprov bali.

Nguncal Balung berasal dari kata nguncal yang berarti membuang dan kata Balung yang artinya tulang. Jadi tradisi Nguncal Balung ini sebenarnya bermaksud untuk mengurangi kegiatan menyembelih hewan yang identik dengan perayaan-perayaan besar. Ketika tradisi ini dihubung-hubungan dengan munculnya pantangan untuk mengadakan upacara-upacara besar ketika Nguncal Balung,

Seminggu sebelum hari raya Galungan sapai 35 hari setelah perayaan Galungan, dalam kepercayaan masyarakat Bali terdapat rentang waktu khusus dimana masyarakat tidak melangsungkan upacara-upacara besar, khususnya acara yang bersifat terencana seperti perkawinan, nyekah, ngaben, dan acara-acara lainnya. Rentang waktu tersebut sering dikenal sebagai istilah Nguncal Balung. Waktu pantang tersebut dimulai dari Buda Pon Sungsang sampai Buda Kliwon Wuku Pahang atau yang sering disebut dengan Buda Kliwon Pegat Wakan.

Secara filosofis, tradisi Nguncal Balung dapat diartikan sebagai perwujudan untuk melepaskan kekuatan dari Sang Kala Tiga yang tidak lain adalah sifat-sifat kala menjadi kekuatan Sanghyang Tiga Wisesa. Di sini, Sang Kala Tiga adalah Bhuta Galungan, Bhuta Dunggulan dan Bhuta Amangkurat yang menggoda umat Hindu menjelang perayaan Galungan.

Terkait pantangan untuk mengadakan upacara-upacara besar ketika sedang masa Nguncal Balung, masyarakat Bali yang masih menjaga nilai-nilai tradisional sudah memahami hal ini. Selain itu, dari sisi padewasan, rentang waktu sepanjang Buda Pon Sungsang sampai Buda Kliwon Pahang dipercaya merupakan dewasa yang tidak baik. Pada rentang waktu tersebut dewasa yang ada dipercaya tidak memiliki balung atau tulang yang berarti tidak mempunyai pengukuh atau penguat atau energy. Oleh sebab itu, masyarakat tidak disarankan untuk melangsungkan upacara atau perayaan besar yang sifatnya ngewangin pada rentang tersebut. Namun, pantangan ini tidak berlaku untuk upacara-upacara rutin misalnya tegak piodalan ataupun tegak otonan. Upacara ini masih tetap boleh dilakukan dan tidak perlu diundur.

Salah satu upacara yang tidak diperbolehkan dilaksanakan pada saat Nguncal Balung adalah upacara bhuta yadnya seperti tawur. Berdasarkan yang tertulis pada lontar Kusumadewa Whidi, tawur sasi Kasanga sebaiknya dilakukan pada saat Tilem. Namun, jika upacara ini kebetulan tiba pada saat wuku Sungsang, Kuningan, Medangsia, Langkir, Pahang, Pujut, dan Dungan, maka tawur dalam Sasih Kasanga sebaiknya tidak dilaksanakan sebelum wuku Pahang atau sebelum wuku Dungulan. Selain upacara-upacara keagamaan, beberapa aktivitas seperti membuat tempat pemujaan dan membangun rumah juga tidak disarankan pada saat Nguncal Balung. Ini didasarkan dari pemikiran bahawa selama rentang Nguncal Balung, dewa-dewa dalam keadaan somia. Hal ini dipercaya akan berpengaruh terhadap seluruh ciptaan-Nya. Binatang, tumbuh-tumbuhan, manusia, dan unsur-unsur alam lainnta dipercaya tidak memiliki kekuatan seperti biasanya.

Namun, menganggap tradisi ini sebagai mitos tentu juga kurang tepat. Sebenarnya, tradisi ini ingin mengajarkan betapa pentingnya manusia berkonsentrasi dalam melakukan sebuah upacara. Selama rentang Nguncal Balung, ada banyak perayaan yang memerlukan konsentrasi umat Hindu. Hari-hari raya tersebut juga tergolong besar. Jika pada waktu yang penuh dengan perayaan lalu menggelar upacara besar, hal ini tentu akan membuat konsentrasi umat menjadi terbagi.


Dibaca: 308 Pengunjung


 
artikel Lainnya
13 Juni 2017 : Agama Untuk Hidup
06 Mei 2017 : Obyek Wisata Sangeh, Tak lekang oleh Jaman
06 Mei 2017 : Legenda Pura Bukit Sari, Sangeh
27 April 2017 : Taman Ayun Sebagai Salah Satu Destinasi Wisata Sejarah
10 Maret 2014 : Mengupas RPJMD Provinsi Bali 2013-2018 (2)
Cari artikel :    
 
YOUTUBE
Video Kegiatan Lainnya

VIDEO STREAMING
Perbesar Video

INFO PENTING
Bali Safety
 
Daftar Muspida/Pejabat
 
Kedutaan Asing
 
Kurs Rupiah
 
Layanan Pengadaan Secara Elektronik
 
Nomor Telpon Penting
 
Rumah Sakit di Bali
 

JAJAK PENDAPAT
Apakah Anda Sudah Memahami Program Bali Mandara ?
Sangat Paham
Paham
Agak Paham
Belum Paham
 
Responden : 280 Responden
Lihat hasil





Informasi

Beranda
 
Peta Situs
 
Situs Terkait
 
Saran
 
Kontak
 
Mobile
 

Situs Terkait
 
Data Peraturan Hukum Provinsi Bali
 
Pemerintah Kabupaten Jembrana
 
Pemerintah Kabupaten Bangli
 
Pemerintah Kota Denpasar
 
Pemerintahan Kabupaten Karangasem
 
Situs Terkait Lainnya
Pengunjung


4038200

Pengunjung hari ini : 143
Total pengunjung : 472192

Hits hari ini : 546
Total Hits : 4038200

Pengunjung Online: 6


Info Kontak

Jl. Basuki Rachmat Niti Mandala Renon, Bali
Telp : +62 361 - 224671 ext 503 (Hotline)
Telp : +62811 3881 875 (SMS)
Email : birohumas@baliprov.go.id
Website : http://birohumas.baliprov.go.id


Copyright © 2013 birohumas.baliprov.go.id - Biro Humas Sekretariat Daerah Provinsi Bali - Bali Indonesia. All Right Reserved.