Rabu Legi,  20 Juni 2018 04:13 WITA
Jl. Basuki Rachmat Niti Mandala Renon, Bali
birohumas@baliprov.go.id
+62 361 - 224671 ext 503 (Hotline)
   
FOTO KEGIATAN
Foto Kegiatan Lainnya

TABLOID BALI MANDARA

Juni, 2018
MSSR KJS
     12
3456789
10111213141516
171819 20212223
24252627282930

KRITIK DAN SARAN
21 April 2018
  iwayan budihartawan
  Penyaluran Bedah Rumah Yang Tepat
 
08 Februari 2018
  Alvin Perdana
  Pantai Kuta penuh sampah
 
01 Februari 2018
  I Gede Ardana
  Toilet di kantin ktr gubeenur bali
 
06 Januari 2018
  Putu sugianto
  Bedah rumah
 
18 Desember 2017
  Gede Arnaya
  SK Gubernur terkait Dispensasi hari Suci Hindu
 


Chat Support
  Chatting Support 1 :
Chatting Support 2 :
 
 
ARTIKEL DETAIL
http://birohumas.baliprov.go.id/ - Selasa, 18 Juni 2013
PUPUTAN JAGARAGA (9 Juni 1848)
Dibaca: 10367 Pengunjung


Oleh : administrator

Sumber Photo : World Wide Web.
Tak banyak yang ingat, menyadari, sesungguhnyalah Bali punya catatan prestasi menekuk Belanda, mengalahkan si penjajah. Bali pernah menang melawan Belanda: di Jagaraga, Buleleng, 9 Juni 1848, dan di Kusamba, Klungkung, 25 Mei 1849. Bali bukanlah hanya kekalahan demi kekalahan lewat puputan. Bali juga punya kemenangan yang patut dipancangkan ke sanubari generasi baru Bali agar tidak berjiwa kerdil, menjadi pecundang dengan hanya mendengar kata puputan.
 
Pelajaran kemenangan itu dipancangkan 9 Juni 1848. Dalam peristiwa hampir 20 windu itu, Belanda yang bersenjata tempur otomatis dan lengkap keok oleh laskar persekutuan segitiga Buleleng-Karangasem-Klungkung di bawah panglima perang Patih Agung I Gusti Ketut Jelantik.
 
Itulah momentum kemenangan laskar bertombak Bali yang tak hanya memberangkan Gubernur Jenderal J.J. Rochusen di Batavia tapi juga mengguncangkan parlemen di Negeri Belanda. Peristiwa kemenangan Jagaraga itu dimulai setelah Belanda gagal memaksa Raja Buleleng I Gusti Made Karangasem dengan Patih Agungnya, I Gusti Ketut Jelantik, untuk sukarela menyerahkan kedaulatan wilayah Kerajaan Buleleng di bawah kekuasaan Belanda. Paksaan itu ditekankan Belanda lewat Komisaris Pemerintah JPT Mayor dengan menunjukkan selembar kertas yang berisi perjanjian pengakuan raja-raja di Bali kepada pemerintah kolonial Belanda, tahun 1841-43.
 
Patih Jelantik terang saja murka dipaksa-paksa begitu. Sembari memukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan, putra I Gusti Nyoman Jelantik Boja yang sudah lama menetap di Sangket, Buleleng, itu berseru keras, “Tidak bisa menguasai negeri orang lain hanya dengan sehelai kertas, tetapi harus diselesaikan di atas ujung keris. Selama aku, Patih Agung Jelantik, masih hidup, kerajaan ini tidak akan pernah mengakui kedaulatan Belanda!” Surat perjanjian itu lalu dirobeknya dengan ujung keris.
 
Diberi tempo waktu 3 x 24 jam buat memenuhi tuntutan Belanda, Jelantik tetap kukuh, bergeming. Dalam perundingan ulang yang dijembatani Raja Klungkung, 12 Mei 1845, di Puri Klungkung, pun Jelantik tetap menepis permintaan Belanda. “Hai, kau, si mata putih yang biadab!” balas Patih Jelantik dengan kata dan raut muka mengejek ke arah utusan Belanda, “Sampaikan pesanku kepada pemimpinmu di Betawi agar segera menyerang Den Bukit!”
 
Belanda memulai ekspedisi militer pertama ke Bali, 27 Juni 1846. Dari sini Belanda menguasai Buleleng setelah melewati pertempuran sengit hingga 29 Juni 1846. Raja Buleleng dan Patih Jelantik mundur ke Jagaraga. Di sinilah Jelantik mulai membangun benteng-benteng pertahanan dalam bentang alam yang strategis dengan gelar “Supit Urang”. Alam Jagaraga memang tandus, namun topografinya sebagai pegunungan terjal dengan dua sungai pengapit di kiri-kanan yang menghubungkan ke tepian pantai dijadikan basis pertahanan.
 
Benteng “Supit Urang” tulah menjadikan Belanda dalam ekspedisi militer kedua di bawah Panglima Perang Mayor Jenderal van der Wijck keok. Dalam pertempuran sengit di Jagaraga, 9 Juni 1848 itu, van der Wijck tak ada pilihan kecuali memerintahkan pasukannya yang sudah kehabisan mesiu mundur ke Sangsit, lalu ngacir lagi ke Jawa, esoknya. Sayangnya, Patih Jelantik tak memerintahkan laskarnya terus mengepung pasukan Belanda yang sudah jerih itu.
 
Kekalahan Belanda itu menggemparkan Batavia, seluruh Hindia, hingga ke parlemen Belanda. Pihak Belanda mengagumi dan mengakui kedahsyatan strategi perang Patih Jelantik. Mereka menduga-duga Jelantik telah mendapat pengarahan dari ahli militer Eropa. Terang saja itu cuma tafsiran bohong sebab Jelantik justru menyerap ilmu perang dari hamparan subur susastra-agama yang bertebaran di Bali.
Strategi unggul-ulung Jelantik itu merenggut korban di pihak Belanda, berupa: tewas 5 perwira, 94 bintara dan prajurit; luka-luka 7 perwira, 98 bintara dan prajurit. Masih ada pula 32 bintara tak bisa diandalkan akibat kelelahan dan luka ringan, serta 24 prajurit lain mesti dirawat di rumah sakit darurat akibat pertempuran dua hari menghadapi pasukan Jagaraga. Sedangkan dalam laporannya kepada Raja Klungkung, Patih Jelantik mencatat di pihak Jagaraga jatuh korban: tewas 3 pedanda, 35 kaum brahmana, 163 bangsawan dan pembekel, serta 2.000 prajurit.
 
Kedahsyatan semangat tempur laskar Patih Jelantik dicatat dalam kesaksian orang Belanda yang menulis di Surat Kabar Negara Belanda (De Nederlandsche Staatcourant) dengan kode K, sebagaimana dikutip Ide Anak Agung Gde Agung dalam Bali pada Abad XIX (1989). Di sana K menulis, “Bukan karena kubu-kubu pertahanan yang kuat menghalangi pasukan kita (baca: Belanda) untuk menguasai Jagaraga, akan tetapi karena perlawanan yang berani, galak, dan penuh semangat juang musuh yang tak kunjung padam, yang sepuluh kali jumlahnya dibandingkan kekuatan kita, dan berhasil memukul mundur pasukan kita tiga kali dari kubu pertahanan yang berhasil diduduki oleh batalyon ketiga dan sesudah itu mengadakan serangan balasan terhadap kedudukan kita, akan tetapi berhasil ditahan dengan tembakan meriam. … Siasat itu tidak berhasil karena Adipati Agung Gusti Ketut Jelantik berada di tempat dan memimpin pasukannya dengan memberi semangat juang kepada pasukan Bali, sehingga mereka memberi perlawanan hebat dengan gaya tempur yang belum pernah kita alami dan tidak ada bandingannya dalam medan perang lain dalam sejarah panjang angkatan darat kita di Hindia.”
 
Lewat ekspedisi militer ketiga ke Buleleng di bawah Panglima Perang Jenderal A.V. Michiels, Jagaraga memang bisa direbut Belanda, 16 April 1849. Saat itu, Belanda mengerahkan militer besar-besaran dengan kekuatan: 4.737 orang pasukan angkatan darat, 2.000 tenaga buruh dari Madura, dan 1.000 tenaga cadangan dari Jawa Timur. Ini ditambah 4.000 pasukan bantuan Raja Seleparang, Lombok. Ditambah pula dengan 29 kapal perang yang membawa 286 meriam, 301 marinir, 2.012 perwira dan awak kapal berbangsa Eropa, serta 701 pelaut dan kelasi Bumiputera.
 
Patih Jelantik sejak awal sudah memperhitungkan Belanda akan datang lagi dengan kekuatan militer berlipat-lipat. Karena itu, dia berstrategi membangun benteng pertahanan lapis kedua di daerah Batur yang lebih sulit dijangkau Belanda. Sayangnya, Raja Bangli saat itu malah main mata pada Belanda dengan memberikan dukungan senjata. Imbalan yang diberikan Belanda: Raja Bangli bisa merebut Batur yang dikuasai Buleleng saat Buleleng bertempur di Jagaraga dengan Belanda.
 
Maka, ketika Jelantik dan Raja Buleleng menyingkir ke Batur setelah Jagaraga dikuasai Belanda, Raja Bangli melarang. Jelantik dan Rajanya lantas menyingkir ke Karangasem. Karangasem kelak digempur Belanda dengan bantuan pasukan Raja Selaparang, Lombok, yang dendam pada Karangasem. Dalam penyelamatan diri ke Bale Punduk bersama Raja Buleleng, Jelantik tewas direbut laskar Lombok.
 
Panglima Perang Mayjen A.V. Michiles memang sudah membalaskan kekalahan Belanda atas Jelantik lewat Jagaraga. Namun, toh akhirnya Michiels pun membayar amat mahal keperwiraan Jelantik. Michiles yang berbintang tujuh itu akhirnya menemui ajalnya di tangan laskar pamating Klungkung lewat perang Kusamba, 25 Mei 1849. Kemenangannya di Jagaraga akhirnya dibayar amat mahal pula, dengan nyawanya, di ujung timur Klungkung.

Dibaca: 10367 Pengunjung


 
artikel Lainnya
13 Juni 2017 : Agama Untuk Hidup
06 Mei 2017 : Obyek Wisata Sangeh, Tak lekang oleh Jaman
06 Mei 2017 : Legenda Pura Bukit Sari, Sangeh
27 April 2017 : Taman Ayun Sebagai Salah Satu Destinasi Wisata Sejarah
21 April 2017 : Makna Nguncal Balung, dan Pantangan Lakukan Upacara Yadnya
Cari artikel :    
 
YOUTUBE
Video Kegiatan Lainnya

VIDEO STREAMING
Perbesar Video

INFO PENTING
Bali Safety
 
Daftar Muspida/Pejabat
 
Kedutaan Asing
 
Kurs Rupiah
 
Layanan Pengadaan Secara Elektronik
 
Nomor Telpon Penting
 
Rumah Sakit di Bali
 

JAJAK PENDAPAT
Apakah Anda Sudah Memahami Program Bali Mandara ?
Sangat Paham
Paham
Agak Paham
Belum Paham
 
Responden : 305 Responden
Lihat hasil





Informasi

Beranda
 
Peta Situs
 
Situs Terkait
 
Saran
 
Kontak
 
Mobile
 

Situs Terkait
 
Data Peraturan Hukum Provinsi Bali
 
Pemerintah Kabupaten Jembrana
 
Pemerintah Kabupaten Bangli
 
Pemerintah Kota Denpasar
 
Pemerintahan Kabupaten Karangasem
 
Situs Terkait Lainnya
Pengunjung


5583823

Pengunjung hari ini : 175
Total pengunjung : 691271

Hits hari ini : 763
Total Hits : 5583823

Pengunjung Online: 6


Info Kontak

Jl. Basuki Rachmat Niti Mandala Renon, Bali
Telp : +62 361 - 224671 ext 503 (Hotline)
Telp : +62811 3881 875 (SMS)
Email : birohumas@baliprov.go.id
Website : http://birohumas.baliprov.go.id


Copyright © 2013 birohumas.baliprov.go.id - Biro Humas Sekretariat Daerah Provinsi Bali - Bali Indonesia. All Right Reserved.